• HOME
  • ABOUT
  • LEISURE TIME
  • FICTION
Instagram Facebook LinkedIn

CHADIRA

A Little World of Yescha Danandjojo

Hari ini, 17 Agustus 2011, Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke - 66.
Pagi ini aku duduk di depan tv di dalam kamarku, menanti dengan seksama peringatan detik - detik Proklamasi dari layar tv, memperhatikan dengan seksama upacara pengibaran bendera pusaka di Istana Negara, mataku tak berkedip saat pasukan pemuda pemudi berpakaian putih itu muncul di layar televisi untuk menunaikan tugas mereka.

Seketika bulu kudukku rasanya berdiri, tiba - tiba aku merasakan lagi sebuah kebanggaan yang pernah aku rasakan 5 tahun lalu. Rasanya aku ingin kembali ke masa itu untuk merasakan hal yang sama, kepuasan yang sama, kebanggaan yang sama.

Saat itu aku teringat pada sebuah cita - cita, yang akhirnya bisa terwujud walaupun tidak sempurna. Sebuah cita - cita, yang walaupun sudah berlalu, walaupun sudah tercapai, cita - cita itu tetap menjadi sebuah kebanggan di dalam diri seorang Yescha...

*   *   *

Entah sejak kapan, mungkin sejak aku bukan lagi balita, mungkin sejak aku masih duduk di sekolah dasar, setiap tanggal 17 Agustus aku selalu duduk manis, anteng, tidak bisa diganggu, terdiam dengan mata hampir tidak terpejam di depan tv. Apa yang aku lihat? Apalagi, siaran langsung upacara pengibaran Bendera Pusaka di Istana Negara. Saat itu aku selalu membayangkan suatu saat nanti aku bisa ada disana, namaku disebutkan oleh pembawa acara sebagai pembawa baki, nama orangtuaku  juga disebutkan. Tentu rasanya sangat membanggakan. Aku selalu bermimpi, suatu hari nanti aku ada disana, menjadi seorang PASKIBRAKA.

Aku juga suka berpura - pura sedang upacara bendera, entah di depan tiang bendera yang ada di rumah, atau berpura - pura sedang mengerek bendera dengan kabel telpon rusak. Saat kelas 3 SD, aku masih sekolah di Bandung, setiap hari Senin aku selalu mengikuti upacara sebagai peserta, berdiri di barisan depan memperhatikan anak2 kelas 5 yang menjadi petugas upacara. Aku bertekad, saat aku kelas 5 nanti, aku harus menjadi petugas upacara. Sayangnya kelas 4 SD aku pindah sekolah ke Jogja, keinginanku itu akhirnya tidak terwujudkan.

Pindah ke Jogja, bukan berarti cita - citaku itu memudar, tapi justru di kota ini lah aku mulai mewujudkan cita - cita ini sedikit demi sedikit.

Waktu kelas 5 SD, aku juga udah lupa dalam rangka apa, kalau ngga salah untuk acara Hizbul Wathon (HW itu semacam Pramuka untuk Muhammadiyah, aku masuk di SD Muhammadiyah waktu itu), pernah ada pemilihan pasukan inti baris berbaris.. Aku ikut, aku bertekad harus jadi tim inti, ngga semua kepilih juga jadi tim inti, dan aku bisa..

Waktu SMP aku ikut TONTI (Peleton Inti, kalau di Jogja ngga ada ekskul Paskibra, adanya Peleton inti yang multi fungsi, bisa jadi petugas upacara, pelatih petugas upacara, ikut lomba baris berbaris, dsb). Aku selalu berusaha untuk menjadi yang "terbaik" untuk mencapai yang "terbaik". Salah satu ajang bergengsi di tonti ini adalah menjadi 20 orang Panitia LABASIS, semacam penjaringan calon tonti untuk anak2 kelas 1. Ada seleksi pemilihan untuk itu, wawancara sama senior, baris, dsb. Aku pun masuk menjadi panitia LABASIS. Dan begitulah, selama 3 tahun di SMP aku aktif di kegiatan tonti ini.

SMA, aku masuk SMA pilihan ke-2. Awal masuk SMA ini, kecewa, ngga ada semangat - semangatnya sama sekali. Tapi, cita - ciitaku ngga pudar kok, apalagi aku sadar kalau jalan untuk mencapai cita - cita itu tinggal di depan mata. Waktu itu, jalan pertama yang aku incar adalah menjadi anggota Pasukan Tujuh Belas (PAJUBEL) SMA 8 Yogyakarta.

Aku tahu di SMA ini ada sebuah pasukan petugas upacara yang namanya PAJUBEL ini. Pajubel bukan ekskul yang bisa kamu masukin lewat open recruitment kayak ekskul lain. Pajubel itu pasukan khusus, dipilih melalui seleksi diam2 selama 1 minggu saat HEP (HEP itu semacam ospeknya SMA aku), dan seleksi akhir di hari terakhir HEP. Aku ngga tau gimana caranya, yang aku tau setiap sesi baris berbaris aku selalu menunjukkan yang terbaik yang aku bisa, dan berusaha untuk menonjol diantara yang lain. And yes, akhirnya aku pun terpilih. Aku menjadi salah satu dari 6 cewek dan 11 cowok PAJUBEL SMA 8 YOGYAKARTA angkatan 2005.

17 AGUSTUS 2005, aku bertugas di lapangan upacara SMA 8 YOGYAKARTA sebagai pembawa baki.
Ada 3 peleton saat itu, GARDA (PAJUBEL 2003); PARAMASATYA (PAJUBEL 2005); PAKCI (PAJUBEL 2004)

Walaupun saat itu aku baru bertugas di lapangan upacara sekolah, tapi rasa bangga itu udah mulai muncul, bahkan masih ada sampai saat ini. Setelah itu, aku bergabung dengan TONTI SMA-ku (kepilih jadi PAJUBEL otomatis jadi anak TONTI).

Akhir tahun 2005, seleksi sesungguhnya pun dimulai, untuk memilih wakil SMA 8 untuk seleksi PASKIBRAKA. Aku dengan pasti mendaftarkan diri untuk ikut. Aku pun mengikuti tiap tahapan seleksi tingkat sekolah itu, seleksi fisik, kesehatan, kesemaptaan, pengetahuan umum, wawancara, semua tahapan, Dari 20 besar, 10 besar, 6 besar, sampai akhirnya terpilihlah 4 orang yang mewakili SMA-ku untuk mengikuti seleksi PASKIBRAKA tingkat kota, dan aku menjadi salah satunya. Senang, tentu itu yang aku rasakan saat itu.

Kemudian, kami mendapatkan pelatihan intensif setiap hari sebelum seleksi tingkat kota itu dilaksanakan. Latihan fisik, pengetahuan umum, Bahasa Inggris, ke-Paskibrakaan, semuaa materi kami terima. Kami dipersiapkan untuk seleksi itu.

Akhirnya hari seleksi itu pun tiba. Hari pertama adalah seleksi kesemaptaan dan baris berbaris. Lari keliling dinding luar stadion 6 kali, push up, sit up, skot jump, jumping jack, apapun itu namanya. Sampai jam 10 pagi kami mengikuti seleksi fisik dan kesemaptaan ini. Setelah itu kami seleksi baris berbaris dari jam 10 sampai dengan jam 17, hanya istirahat untuk solat dan makan. Kami harus bertahan, dan aku berusaha untuk terus bertahan, walaupun capeknya udah ngga bisa diungkapkan lagi, ditambah lagi teriknya matahari Jogja saat itu. Seleksi hari pertama pun selesai, kami menunggu hasil seleksi yang diumumkan keesokan harinya, dan kami berempat pun lolos ke tahap selanjutnya.

Hari kedua, seleksi meliputi wawancara, pengetahuan umum, dan ke-Paskibrakaan. Aku merasa kurang optimal saat seleksi kedua ini. Tapi, aku masih terus berharap untik bisa terpilih.

Hasil seleksi pun diumumkan, aku lolos seleksi tingkat kota, tapi aku tidak termasuk ke dalam 8 orang terpilih untuk melanjutkan seleksi ke tingkat propinsi. Sedih, kecewa, merasa kurang optimal, itu yang pertama kali aku rasakan. Tapi, kemudian aku bersyukur, aku menjadi salah satu orang yang terpilih untuk menjadi (calon) PASKIBRAKA KOTA YOGYAKARTA dari ratusan orang yang mengikuti seleksi saat itu, dan hanya 43 orang yang terpilih.

Aku dan teman - teman yang lain pun mengikuti tahap pelatihan selama kurang lebih 3 bulan. Latihan fisik dan baris di bawah sinar matahari telah menjadi kegiatan rutinku saat itu. Mungkin melelahkan, tapi demi sebuah cita - cita rasa lelah itu pun tidak terasa berat lagi. Di akhir pelatihan kami pun di karantina selama 1 minggu di asrama.

15 AGUSTUS 2006, kami dikukuhkan sebagai PASKIBRAKA KOTA YOGYAKARTA 2006.
Air mata itu mengalir membasahi pipiku saat itu, selangkah lagi, menuju sebuah cita - cita.


Pengukuhan PASKIBRAKA Kota Yogyakarta 2006


17 AGUSTUS 2006, kami pun bertugas mengibarkan SANG MERAH PUTIH di lapangan upacara Balaikota Kota Yogyakarta.

Akhirnya cita - cita itu pun terwujud, aku menjadi bagian dari sebuah prosesi pengibaran (duplikat) Bendera Pusaka. Aku mengenakan seragam putih - putih yang selama ini hanya bisa aku lihat di televisi, dengan namaku, Yescha Nuradisa E. D. tertulis di atasnya. Merah Putih Garuda berwarna dasar hijau menempel di dadaku, pangkat PASKIBRAKA  bergambar bunga kapas berwarna hijau menempel di bahuku.

Aku, berhasil meraih cita - cita yang sudah lama aku impikan..

*   *   *

17 Agustus 2011, 5 tahun telah berlalu sejak hari itu.

Walaupun cita - citaku tidak terwujud sesemourna yang aku harapkan.  Walaupun aku hanya menjadi PASKIBRAKA Kota Yogyakarta, bukan PASKIBRAKA Nasional.  Walapun aku hanya bertugas di Balaikota, bukan di Istana Negara. Walapun aku hanya menjadi pasukan 17, bukan menjadi pembawa baki seperti yang aku impikan,

Tapi, aku masih berterimakasih pada Tuhan, karena aku diberi kesempatan untuk merasakan kebanggaan ini. Rasa bangga saat derap langkah kami yang beradu dengan aspal jalan bergema untuk menjemput bendera pusaka. Rasa bangga saat Sang Merah Putih dibentangkan. Rasa bangga saat menyaksikan Sangsaka Merah Putih berkibar dengan gagahnya di langit Kota Yogyakarta. Juga tetes air mata haru dan bangga, saat pelatih kami mengacungkan jempolnya, mengapresiasi usaha dan jerih payah kami sampai hari itu tiba.

Rasa bangga itu, masih ada, hingga saat ini, walaupun 5 tahun telah berlalu sejak hari itu.
Mungkin orang akan menganggap cita - citaku itu hanya cita - cita kecil. Mungkin orang menganggap petugas upacara adalah hal yang biasa. Tapi, bagiku menjadi seorang PASKIBRAKA adalah suatu kebanggaan yang tidak tergantikan. Menjadi PASKIBRAKA adalah sebuah kesempatan yang tidak dimiliki oleh semua orang. Menjadi PASKIBRAKA membuatku selalu mencintai Indonesia.

Apapun, bagaimanapun, seperti apapun keadaan Indonesia-ku saat ini, darahku tetap mengalir merah, tulangku tetap putih kokoh menopang tubuhku. Hatiku tetang mencintainya, jiwaku tetap membanggakannya, Indonesia..

DIRGAHAYU INDONESIA.. MERDEKA!!

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Setiap orang pasti mengalami perubahannya masing - masing, baik secara fisik, sifat, ataupun sikap. Mungkin ada orang yang bisa berubah sangat drastis, bahkan sampai benar - benar berbeda dari sebelumnya, atau bisa disebut berubah 180 derajat. Tapi, ada juga orang yang tidak banyak berubah, hanya sedikit perubahan yang ia alami seirng dengan berjalannya waktu. Itulah yang aku sebut methamorfosa disini. Aku? Aku juga mengalami perubahan seiring dengan berjalannya waktu, apalagi udah 21 tahun 6 bulan aku hidup. Tapi, aku tetaplah Yescha yang sama dari dulu hingga kini.

METHAMORFOSA - ku?


Hmmm..ini waktu aku ulang taun yang ke-2. Belum tau apa - apa, cuma anak kecil nakal yang selalu mencoba hal - hal baru, ngga gampang dikasih tau, bandel, dan baru diem kalo udah ngerasain batu dari bandelnya.


Anak kecil bandel itu cuma ngerasain 5 taun jadi anak tunggal, sampai kemudian lahir satu persatu adik - adik kecil yang 17 tahun kemudian jadi bodyguard pribadi :)). Ini waktu aku SD kayaknya. Waktu SD aku belum punya mimpi, belum punya cita - cita. Yang ada dalam pikiranku waktu itu yang penting bisa masuk 10 besar di sekolah, cuma itu, tujuan anak kecil polos.

 

Foto ini kayaknya waktu aku kelas 1 SMA. Item, lusuh, kelam banget deh pokoknya. Itulah aku sampai kelas 2 SMA. Dari kelas 1 SMP sampai kelas 2 SMA, ngga tau kenapa, aku ngga kapok sama yang namanya tonti dan baris berbaris. Sebenernya, ada satu mimpi yang membuat aku ngga kapok dengan baris dan dijemur di lapangan itu. Satu mimpi : untuk menjadi PASKIBRAKA. Dari kecil aku suka banget liat upacara bendera di Istana Negara setiap tanggal 17 Agustus. Walaupun cuma lewat TV, tapi melihat pasukan dengan baju putih - putih itu keliatannya cool banget! Hmm..alhamdulillah kesampean juga mimpi itu, walaupun ngga sampai bertugas di Istana Negara, tapi bangganya menjadi PASKIBRAKA akhirnya aku rasakan, dan ngga akan pernah hilang..

Peleton Inti Putri SMA 8 Yogyakarta
Culun banget rasanya. Kami baris bersama, dan hitam bersama, :P.
PASKIBRAKA Kota Yogyakarta 2006
Bangganya sampe hati paling daleeeeeem..


Setelah hampir 5 tahun menjemur diri di tengah lapangan, di bawah sinar matahari, mulai kelas 3 SMA aku sepertinya mulai insyaf. Kelas 3 SMA, aku udah ngga sehitam, kelam, dan selusuh dulu kayaknya. Kelas 3 SMA aku mulai mengejar mimpi yang lain. Aku pengen banget kuliah di ITB, entah mimpi dari kapan. Sampai kelas 2 SMA aku masih bercita - cita untuk menjadi Arsitek. Sampai akhirnya, entah sejak kapan, aku berubah haluan dengan bercita - cita untuk menjadi seorang Planner, mengikuti jejak Ibu dan Bapak. Mungkin karena aku terlalu sering mendengar Ibu dan Bapak ngobrol tentang kerjaan mereka yang berhubungan dengan perencanaan wilayah dan kota itu, sampai akhirnya aku pun tertarik. Mungkin mimpi untuk kuliah di ITB terdengar muluk untukku saat itu. Aku bukan murid pintar di SMA. Standar, biasa aja, bahkan kayaknya ngga pernah 10 besar selama di SMA, terakhir 10 besar ya di SMP. Mungkin teman - temanku juga mikir ngga mungkin juga aku masuk ITB kalo akademikku begitu. Hmm..aku juga ngerasa kok waktu SMA aku agak dipandang sebelah mata untuk urusan akademik. Tapi, itu mimpiku, itu cita - citaku, dan aku, akan berusaha mencapainya.

 Jas Almamater ITB
Jaket Himpunan Mahasiswa Teknik Planologi Pangripta Loka ITB

Yaa..akhirnya aku pun diterima menjadi mahasiswa di ITB. Jurusan yang aku ambil? Tentunya, Perencanaan Wilayah dan Kota. Ngga ada yang ngga mungkin kan? Dengan segenap usaha, dan tentunya doa, akhirnya aku bisa juga jadi mahasiswa ITB.
Setelah masuk ITB? Waktu itu aku belum tau mau apa setelah aku jadi mahasiswa ITB, yang ada di pikiranku adalah yan pentimg aku udah jadi mahasiswa ITB, udah. Dua tahun pertama di ITB sejujurnya aku emang belum dapet gambaran aku mau apa, makanya aku ikutin aja alur hidupku di ITB, aku jalani aja.


Hal terunik dari menjalani hidup di ITB adalah perubahan "profesi"-ku. Ya, dari SMP sampai SMA, hidupku ngga jauh - jauh sama yang namanya baris berbaris dan dijemur. Pendidikan semi militer itu, kayaknya udah melekat sampai urat. Oke, dari awal masuk kuliah di ITB aku juga masih ketemu yang namanya baris, yang namanya disiplin, dan yang namanya dijemur, tapi dalam bentuk lain : Marching Band.
Tapi, pasti ngga ada yang nyangka kalau Yescha yang ini, yang anak tonti ini, begitu masuk ITB langsung jadi penari. Yaa, di Marching Band Waditra Ganesha ITB aku jadi colour guard. walaupun masih dibawah payung "disiplin", tapi menjadi colour guard artinya harus menari dengan lembut, anggun, enerjik, senyum, gemulai, berbeda saat aku berbaris di dalam peleton yang gerak geriknya kaku itu.


Aku aja masih suka senyum - senyum sendiri kalau inget - inget lagi, gimana caranya aku bisa jadi suka nari? Oke, waktu TK aku emang nari juga, tapi itu TK, dan terakhir aku nari itu waktu kelas 3 SD, sama belajar nari untuk seleksi PASKIBRAKA, itu juga nari jawa dan 1 bulan doang. Hmm... itulah perubahan yang paling aku rasakan. It was totally different, but i like it.


And yaah, its me now. Masih suka nari, tapi bakal pikir ulang kalau harus baris lagi di lapangan, udah ngga kuat lagi kayaknya. Sekarang, aku punya tanggung jawab lebih dalam sebuah organisasi. Yang berbeda dari tahun sebelumnya adalah aku udah punya mimpi baru sekarang.
Kalau di awal masuk ITB aku belum tau mau apa setelah aku lulus nanti, sekarang aku udah tau aku mau apa. Singkat kata, begitu aku lulus aku mau kerja dulu 1 tahun, mungkin di konsultan atau NGO, tapi pikir - pikir dulu untuk kerja di pemerintahan. Setelah 1 tahun kerja, aku mau lanjut kuliah S2. Aku udah punya mimpi untuk ambil S2 dimana, MSc in Architectural and Urban Design, University of Edinburgh, Scortland, Insya Allah. Itu mimpi baruku sekarang.

Mulailah dengan bermimpi, karena mimpi itu perlahan - lahan bisa menjadi sebuah rencana, tujuan hidup, dan akan ada jalan yang terbuka untuk mencapainya.

Menjadi PASKIBRAKA mungkin awalnya cuma mimpi, kuliah di ITB juga mungkin awalnya cuma mimpi, tapi siapa sangka ternyata Tuhan menggariskannya sebagai tujuan untuk aku capai, dan Tuhan memberikan jalan untukku mencapainya.

Satu hal yang perlu diingat, Tuhan tidak hanya memberikan satu jalan untuk mencapai sebuah mimpi. Kalau kita gagal pada jalan yang satu, masih ada jalan yang lain untuk mencapainya. Namun, kalau mimpi itu tidak bisa dicapai dengan jalan apa pun, mungkin Tuhan memang telah menutup jalan itu, karena Tuhan tahu mimpi itu bukanlah yang terbaik untuk dicapai. Tapi, disamping itu Tuhan sudah menyiapkan mimpi lain yang lebih baik untuk dicapai.

Believe in dreaming, planning on it.

Setiap orang itu harus punya mimpi dan rencana untuk hidup, harus punya tujuan hidup, karena untuk itulah kita hidup.

- Yescha, di dalam kamar Jl Garut no 8 Bandung, 30 Mei 2011 ; 01:03 am -
Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
Selamat untuk adek - adek SMA 8 Yogyakarta yang lulus 100% tahun ini.

Aku buka website SMA aku itu, ada foto - foto yang tiba - tiba ngingetin aku sama kenangan masa - masa SMA. Kalau diinget - inget lagi, ternyata cukup banyak juga kenangan aku di SMA itu.

Sebenarnya, aku masuk SMA ini awalnya setengah hati karena itu adalah pilihan ke-2, dan aku emang ngga keterima di SMA yang aku pengenin. Tapi, ngga nyangka juga kalo akhirnya aku sampai saat ini ngerasa dapet banyak banget dari SMA ini.

Apa aja ya kenangan yang aku dapet yang bisa aku inget sampe sekarang?

Pasukan 17 SMA Negeri 8 Yogyakarta
Awal masuk SMA ini aku kepilih jadi salah satu dari 17 orang hasil saringan satu angkatan. 11 cowok, 6 cewek. Ntah kenapa aku selalu ngerasa jubel angkatan aku itu paling keren deh. Baik secara fisik (narsis) ataupun secara talent-nya. Waktu masa sekolahnya rata - rata pada jadi  "pejabat". Udah lulus, juga pada sukses kuliah di bidang masing - masing. Aku bangga aja jadi bagian keluarga Jubel SMA 8, Jubel 2005 khususnya. Aku jadi pembawa baki waktu tugas. Udah lewat 5 kali seleksi jubel setelah aku tugas, dan aku hampir selalu dateng, walaupun 2 seleksi terakhir aku udah kuliah di Bandung, aku tetep dateng, cuma 1 kali seleksi kayaknya aku ngga ikut, karena awal masuk kuliah waktu itu.

GAPARCI SMA 8 Yogyakarta
Garda Paramasatya Pakci adalah nama peleton inti (Tonti) SMA aku. Dari SMP juga aku udah ikut tonti, waktu SMA sebelum latihan tonti dimulai aku udah jadi jubel duluan, jadi wajib ikut tonti. Aku jadi Ketua Putri Dewan Tonti, semacam ketuanya peleton cewek lha, atau wakil ketua untuk tonti keseluruhan.
Mungkin orang liatnya gila kali ya dari SMP dengan rela dan senang hati aku dipanggang di lapangan basket cuma untuk baris2an doang. Aku juga kalo mikir lagi sekarang emang aneh aja mau - maunya dijemur tiap hari siang - siang. Tapi, aku jadi tonti itu untuk mendapatkan satu mimpi dari kecil. Mimpi apa?

PASKIBRAKA Kota Yorgyakarta 2006
Yaa, dari kecil ni aku emang udah mimpi untuk jadi PASKIBRAKA. Cetek sih emang ni cita - cita, tapi aku bangga untuk itu. Walaupun aku ngga sampai bertugas di Istana Negara dan hanya bertugas di Balaikota Yogyakarta, aku bangga kok, bangga banget. Ada 4 orang yang mewakili SMA aku waktu itu, dan kami semua lolos seleksi dan menjadi PASKIBRAKA.
Aku merasa beruntung, karena ngga semua orang punya kesempatan yang sama kayak yang aku dapetin. Aku bangga, karena ngga semua orang bisa merasakan gimana rasa bangganya saat Sang Merah Putih itu berkibar, gimana rasa bangganya pake Pakaian Dinas Upacara, gimana rasanya pelatihan menjadi PASKIBRAKA yang bekasnya masih ada sampai sekarang dalam diri aku. Untuk yang satu ini, aku yakin bangga-nya ngga akan pernah mati!

Delayota Competition Fair
DCOMFAIR adalah acara besar yang menggabungkan 3 acara di dalamnya, dan waktu itu aku jadi bendahara KAB, salah satu acara yang semacam lomba MIPA untuk anak SMP. Sebelumnya, 3 acara SMA 8 itu berdiri sendiri2, dan angkatanku adalah angkatan pertama yang menggabungkan 3 acara itu jadi 1 dengan nama DCOMFAIR. Keren kan angkatan-ku? Aku juga bangga untuk itu. Sampai saat ini, nama DCOMFAIR tetap dipakai yang mungkin ada sedikit penambahan substansi tiap tahunnya, dengan inti acara yang sama.

EIGHTIVITY
Sebelumnya nama acara pensi SMA aku ini cuma TBT, gitu aja, singkatan dari Tutup Buka Tahun. Tapi, mulai dari angkatanku namanya berubah jadi EIGHTIVITY. Aku jadi Sekretaris waktu itu. Nama EIGHTIVITY masih dipake sampe sekarang. Aku juga bangga jadi angkatan pertama yang mencetuskan nama ini.

Steering Committe Hakarya Eka Pakci 2007
HEP adalah MOS di SMA-ku. SC HEP terdiri dari 11 cewek dan 11 cowok yang dipilih sama ketuanya dengan spesialisasi masing - masing. Aku jadi SC HEP karena aku jadi Paskibraka taun sebelumnya. Ini juga salah satu hal yang cukup bisa dibanggakan selama aku SMA, soalnya, menurutku, SC HEP keliatan keren banget waktu aku yang jadi peserta HEP, ya semoga anak2 kelas X waktu itu nganggep aku dan temen2 keren juga, hehe.. Tapi, diluar itu, pokoknya aku juga bangga jadi SC HEP.

Masih ada acara lain yang munculnya emang di angkatanku, kayak DEBUT (Delayota Buat Try Out) sama Delayota Art (kalo yang ini antara angkatanku atau angkatan bawahku sih). Yang pasti, walaupun awalnya aku masuk SMA ini setengah hati, tapi ternyata yang aku dapet adalah kenangan sepanjang hayat, dan ngga akan mungkin dilupakan.

Terlepas jadi "apa" aku waktu SMA, banyak pelajaran yang aku dapet dibaliknya. Tentang organisasi, tentang arti kerjasama, tentang arti percaya, dan arti pengorbanan. Selain itu, Jubel, Tonti, Paskibraka juga memberikan pelajara tentang disiplin, etika, cara berpikir, cara pandang, banyak deh, banyak banget yang aku dapet..

Selain itu...di SMA ini juga aku punya satu cerita lain yang masih aku inget sampai sekarang. Satu cerita yang punya rasa asem, manis, pait, dan sakit yang terangkai jadi satu.  Satu cerita yang membuat aku tau arti sahabat, dan merupakan cerita cinta satu - satunya selama SMA. Pokoknya cerita yang, hmmmmm....bikin aku galau 2 tahun, hahaha..

Yaa, terima kasih Delayota,
untuk semua cerita dan kebanggaan yang aku dapatkan.

PAKCI, JAYA!
Share
Tweet
Pin
Share
3 comments

About me

Follow

  • FACEBOOK
  • LINKEDIN
  • INSTAGRAM

Instagram

Recent Posts

Categories

  • Activity
  • Leisure Time
  • Old Story

Blog Archive

  • ▼  2012 (1)
    • ▼  January (1)
      • HOBBY
  • ►  2011 (4)
    • ►  August (2)
    • ►  May (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates